Rakornas Pengelolaan Sampah 2024 yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) di Grand Ballroom Hotel Kempinski, Jakarta, pada Kamis, 12 Desember 2024, merupakan pertemuan antara pemerintah pusat dan daerah untuk menyelaraskan pengelolaan sampah.
Acara ini dihadiri oleh sekitar 800 peserta, termasuk: 20 gubernur, 264 bupati/wali kota, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dari seluruh Indonesia.
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menekankan agar kepala daerah berkolaborasi untuk menyelesaikan permasalahan sampah di Indonesia. Ia menargetkan agar penuntasan sampah selesai pada tahun 2025-2026.
Pengelolaan sampah merupakan isu global dan lokal yang masih menjadi masalah yang belum terselesaikan. Jumlah timbunan sampah semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan budaya yang tidak ramah sampah.
Data KLH menunjukkan jumlah timbulan sampah di Indonesia secara nasional sebesar 175.000 ton per hari atau setara 64 juta ton per tahun.
Komposisi sampah di Indonesia didominasi oleh sampah organic (sisa makanan, kayu ranting daun), yaitu sekitar 57%, sedangkan sampah anorganik berupa: sampah plastik sebesar 16%, sampah kertas 10%, serta lainnya (logam, kain teksil, karet kulit, kaca) 17%.
Dari total timbulan sampah plastik, yang didaur ulang diperkirakan baru 10-15% saja, 60-70% ditimbun di TPA, dan 15-30% belum terkelola dan terbuang ke lingkungan, terutama ke lingkungan perairan seperti sungai, danau, pantai, dan laut. Persoalan lainnya timbul karena tercampurnya sampah organik dan sampah anorganik sehingga menimbulkan kesulitan baru untuk mengelolanya.
Melihat profil pengelolaan sampah nasional, sumber sampah yang utama dihasilkan dari rumah tangga sebesar 36%. Selanjutnya pasar serta perniagaan memberikan kontribusi timbulan sampah sebesar 38% dan sisanya 26% berasal dari kawasan, perkantoran dan fasilitas publik.
Banyumas sukses kelola sampah
Pengelolaan sampah diKabupaten Banyumas ini dilakukan dengan mengajak masyarakat untuk ikut serta memilih sampah dan menjualnya kepada Pemkab Banyumas dengan menggunakan aplikasi Sampah Online Banyumas (Salinmas) dan Ojeke Inyong (Jeknyong).
Dari sampah yang dipilah, diolah dan menghasilkan paving, atap, bata, pupuk kompos serta biji plastik yang dikelola berbasis Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM).
Sampah yang ada di Banyumas hanya diolah di enam TPST dan sebuah Tempat Pemrosesan Akhir Berbasis Lingkungan dan Edukasi (TPA BLE). Dengan 29 kelompok swadaya masyarakat (KSM) sebagai pengelola. ”Sampai saat ini ada 29 KSM dengan tenaga kerja 1.200 orang.
Sampah organik dijadikan kompos dan pakan magot. Botol plastik bekas juga dijual kembali untuk didaur ulang. Untuk magot, di Banyumas per hari sudah bisa memproduksi 3,5 ton magot.
Dari KSM ini, sampah yang tersisa sekitar 9 persen baru masuk ke TPABLE, yaitu Tempat Pemrosesan Akhir Sampah Berbasis Lingkungan dan Edukasi. Di sini sampah anorganik diolah menjadi refused derived fuel (RDF) sebagai bahan bakar pengganti batu bara untuk pabrik, sekaligus juga bisa dijadikan sebagai paving block plastik.
Inovasi banyumas ini juga menjadi percontohan oleh 13 kota di ASEAN, serta mendapatkan apresiasi dari UNCDF (United Nation Capital Development Fund).


